Saya ingat betul kala itu (2018), dari yang tadinya tidak suka baca-tulis, tiba-tiba memiliki keinginan untuk menjadi seorang penulis. Saking ngebetnya jadi saingan Fiersa Besari, buku demi buku saya pinjam ke sana kemari.
Bukan lebay pula analogi atau pemanis dalam rangkaian diksi, faktanya tak banyak usia remaja seangkatan saya yang mengoleksi buku-buku—mungkin saja hanya terjadi di lingkunganku. Jangankan mendalami sastra, konon perempuan yang lebih telaten dalam hal ini, bisa meminjamkan buku novel fiksi saja sudah bagus!
Kira-kira ada belasan buku yang berhasil saya pinjam. Saya paksa diri untuk biasa membaca. Semua bacaan ringan, dua-tiga hari selesai sudah habisi sinetron-sinetron cetak. Apa yang saya dapat? Mabuk. Semakin banyak saya membaca, semakin pula muncul pertanyaan di kepala—bermula dari: gimana sih cara yang benar menulis tanda titik dan koma?
Bacaan tamat, buku mulai habis. Tak sengaja satu novel memiliki most popular berketerangan: telah dibaca jutaan kali di suatu platform. Inilah yang membuka jalan pertemuan saya dengan Wattpad. Selanjutnya saya mulai belajar menulis. Menulis dengan niat yang benar—berusaha sesuai kaidah—secara autodidak.
Mengejutkannya, komunitas ternyata sudah terbangun. Hanya satu bab saya unggah, tulisan perdana saya tuai komentar. Bukan pujian, tetapi kritik habis-habisan. Saya hampir putus asa. Tidak percaya diri. Tetapi perlahan saya sadari setelah membacanya berulang kali, ternyata kritik kejam tersebut untuk membangun, bukan cemooh semata.
Selesai satu-dua bab menulis, saya kembali membaca dengan teliti lalu merevisi. Demikian juga kala pengetahuan saya yang terus bertambah soal kepenulisan, selalu membawa saya untuk menyunting kembali dari awal. Beberapa kali, berulang kali, bahkan novel pertama itu sengaja dihapus lalu ditulis kembali. Lucunya, novel itu tidak pernah selesai sampai detik ini.
Bosan dengan dunia maya, hasrat membawa saya mencari rekan sejawat di kehidupan realita. Niatnya sederhana, saya ingin bergabung dengan komunitas literasi untuk menambah wawasan sekaligus belajar. Sayangnya, saya tidak beruntung. Rasa-rasanya komunitas dengan topik ini tidak begitu aktif, atau mungkin perasaan saya saja, atau memang tidak menemukannya.
Beberapa grup saya jelajahi, tak ada basa-basi, apalagi diskusi. Heran, padahal anggota grup mungkin ada puluhan bahkan ratusan orang. Saya sebagai seorang amatir kan minder jadinya kalau untuk memantik keaktifan. Iya, kan?
Tapi tak lama ada salah satu senior membagikan informasi jika dirinya membuka lowongan pekerjaan: wartawan. Jujur saja, saya tidak tahu apa itu wartawan, pekerjaannya apa, jobdesk-nya seperti apa, gajinya berapa. Yang terpikir spontan di benak saya kala itu simpel saja, wartawan kerjanya nulis. Titik. Benar, kan?
Saya langsung kontak pribadi, meski tahu syaratnya sarjana dan saya hanya lulusan SMA, tetap dilakukan semata-mata dengan tekad iseng-iseng berhadiah. Beliau lalu meminta saya membuat cerita pendek, seribu kata, tema bebas. Dalam hati kecil, kalau cuma seribu kata, menulis di Wattpad saya pun sudah biasa. Tetapi ternyata tetap saja butuh waktu dua hari untuk menyelesaikannya! Alasannya, saya ingin hasilkan karya terbaik meski berujung kritik.
Sepekan berlaku, telepon masuk di ponselku. Beliau mengajak saya untuk bertemu. Interview—kata orang pemburu karier. Panjang lebar beliau jelaskan, saya menyadari sebuah hal, ada sebuah gap besar. Masuk ke dunia jurnalisme itu bertolak belakang dengan hobi yang saya tekuni. Asli.
Sebelumnya saya biasa menghayal dan berandai-andai tentang cinta, tetiba dihadapi banyak kosakata yang asing di telinga. Menulis sedikit-sedikit harus didasari fakta, merangkai hanya satu kalimat harus bolak-balik putar ulang rekaman wawancara. Kalau saya kala itu menulis seribu kata novel fiksi hanya perlu habiskan segelas kopi, menulis berita yang rata-rata hanya tiga ratus lima puluh kata butuh tiga gelas. Untung saja tidak asam lambung.
Ah, rasanya kopi saya sudah hampir habis. Lain kali saya akan bahas lika-liku menjadi seorang jurnalis muda. Meski saya hanya sebentar di lapangan untuk liputan, kalau setiap hari bertemu banyak orang, pasti banyak kan yang bisa diceritakan?
Ohiya, sedikit pandangan terkait zona nyaman itu fiktif, ini hanyalah pendapat pribadi. Dari cerita yang ditulis dengan secangkir kopi ini, nyatanya saya tidak berdiam di tempat, dua tahun liputan dan cukup banyak jaringan, saya putuskan untuk resign. Lalu memilih membangun media berbasis online. Apakah lebih baik? Tidak juga. Apalagi industri ini bak hidup segan mati tak mau. Babak belur dihajar AI. Tapi sekarang masih bertahan! Bukan karena sudah nyaman dan mapan, tetapi soal prinsip yang dipegang.
Dari tulisan membawa saya masuk industri media konvensional dan beralih ke digital. Masuk era digital, memicu saya untuk terus berkembang. Bukan soal karier, tetapi skills. Dari tulisan ke fotografi, dari foto ke video, dari video ke editing, dari editing ke design lalu website hingga event organizer. Dan semakin dalam diselami mengarahkan saya untuk menjadi seorang pekerja serabutan—freelancer kalau kata anak zaman sekarang. Gongnya, saya belakangan justru membangun brand cuci sepatu dan home cleaning service. Benar-benar keluar jalur.
Saya hanya mau bilang, tidak ada yang nyaman di dunia ini. Kokohnya zona nyaman yang dibangun mati-matian hancur akibat kegelisahan. Jika tidak datang dari diri sendiri, bisa jadi datang dari orang lain tanpa kita sadari. Dan mungkin, zona yang kata orang semakin nyaman justru adalah tempat yang paling tidak nyaman. Kalau ada orang bicara, “Enak ya jadi presiden?” Mungkin akan berubah pikiran di hari pertama menjabat sebagai presiden. Sekian dan terima kasih.


